AKSI BERSAMA CEGAH STUNTING DAN OBESITAS

 28 September 2022    Dibaca: 2911 Pengunjung

AKSI BERSAMA CEGAH STUNTING DAN OBESITAS

Banyak masyarakat Indonesia belum menyadari besarnya permasalahan Stunting dan Obesitas. Meskipun angka stunting di Indonesia sudah mengalami penurunan. Hasil survey 2021 melaporkan prevalensi stunting saat ini 24.4%. Angka ini masih jauh dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 14% pada tahun 2024. Prevalensi stunting untuk tingkat provinsi Bali adalah 10,9% hal ini membuat provinsi Bali sebagai provinsi yang tidak mengalami masalah gizi stunting dari kriteria kesehatan masyarakatnya. Sementara kondisi di Kabupaten Jembrana adalah sebesar 14,3%.

Stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis yang menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dialami oleh hampir seluruh negara di dunia. Beberapa masalah penyebab masih tingginya stunting di daerah (hasil monev lapangan) adalah sebagai berikut:

  • Kurangnya asupan gizi pada anak
  • Rendahnya pendidikan orangtua
  • Pola asuh yang salah
  • Kurangnya tenaga kesehatan terutama ahli gizi dalam pemantauan perkembangan balita
  • Rendahnya cakupan akses minum dan masih kurang meratanya akses sanitasi layak hingga tingkat rumah tangga di suatu daerah
  • Permasalahan pada daerah 3T: kasus nikah adat, keluarga muda belum memiliki NIK, dan anak yang dilahirkan tidak memiliki akte kelahiran
  • Perlu integrasi data agar intervensi tepat sasaran

 

Sementara itu, prevalensi balita yang mengalami kelebihan berat badan pada 2021 sebesar 3,8% dan obesitas dewasa pada usia 18 tahun sebesar 21,8% pada tahun 2018. Kondisi ini lah yang dikenal dengan beban ganda masalah gizi. Beban ganda masalah gizi ditandai dengan adanya masalah gizi kurang yang disertai masalah gizi berlebih. Masalah gizi kurang termasuk kurus atau wasting, pendek atau stunting, dan defisiensi mikronutrien, sementara masalah gizi berlebih termasuk berat badan berlebih atau overweight, obesitas, dan berbagai penyakit tidak menular yang berhubungan dengan diet. Saat anak terkena stunting, produktivitas mereka akan berkurang saat usia muda, capaian pendidikan lebih rendah menghasilkan pekerjaan dengan pemasukan lebih kecil. Bila diikuti dengan kenaikan berat badan tinggi saat tua, mereka akan berisiko terkena obesitas dan penyakit lain yang terkait pola makan. Ini adalah beban ganda malnutrisi.

                               

Intervensi yang dilakukan Kementerian Kesehatan berfokus pada usia remaja dan 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dengan tujuan memerkuat intervensi sehinga masalah gizi dari anak yang dilahirkan dapat ditekan sedini mungkin.  Terdapat enam intervensi yang dilakukan yaitu: kegiatan konseling, promosi dan konseling menyusui, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, pemberian suplemen kepada ibu hamil dan remaja, penanganan masalah gizi dengan pemberian makanan tambahan serta tata laksana penanganan gizi buruk.

Selain pemerintah, masyarakat juga perlu berpartisipasi untuk pencegahan Stunting dan Obesitas. Masyarakat diharapka dapat menerapkan gizi seimbang dengan 4 pilar utama yaitu:

  1. Pentingnya pola hidup aktif dan berolahraga
  2. Menjaga berat badan ideal
  3. Mengonsumsi makanan dengan beraneka ragam
  4. Menerapkan pola hidup bersih dan sehat
  5. Stunting dan obesitas perlu dicegah sejak dini. Kiat utama mencegah stunting adalah gizi baik dan perawatan kesehatan bagi calon pengantin dan ibu hamil, pemberian ASI dan MP-ASI yang cukup dan baik, serta menjaga kebersihan dan kesehaan anak. Mencegah stunting juga berarti mencegah obesitas. Bersama kita pasti bisa sesuai peran utamanya masing-masing.

TAGS :